Prolog

Bandul jam berdetak mengiringi detik demi detik waktu yang berlalu menerobos ilalang masa depan, yang sedikit demi sedikit terkuak, menampilkan rentetan peristiwa demi peristiwa dan menorehkannya dalam kisah hidup manusia. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun terus bergerak, berlalu. Sementara kita masih terpana di tengah semesta, menegaskan jati diri di tengah hiruk-pikuk aktifitas kehidupan yang tak kunjung reda, yang memperdengarkan simfoni sumbang. Jerit, tawa, tangis, bercampur baur dalam kereta waktu yang terus berjalan, melintas, dan melindas.

Drama terus dimainkan, kadang kita jadi penonton yang bertepuk riuh atau meneteskan airmata, menampilkan emosi demi emosi hasil interpretasi terhadap cerita yang tengah berlangsung. Kadang kita jadi pemain, yang berbicara, berbisik, berteriak, tertawa, dan segala ekspresi ala manusia. Semua itu kita jalani dengan keterpaksaan atau tidak. Suguhan kejadian kadang saling terkait kadang juga tidak.

Lantas, kemanakah kita akan menuju? Kapan kita mengakhiri babak demi babak yang kita mainkan? Apakah kita larut dalam permainan atau mencoba bersikap kritis terhadap apa yang tengah berlangsung? Tapi, drama kehidupan itu tetap saja berlalu tanpa peduli, menembus fragmen demi fragmen peristiwa, meninggalkan kita yang masih juga terpana!

Satu Tanggapan

  1. Akhi kata-katanya bagus banget,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: