Ritual Harian

Kadang-kadang ketika kontrol diri kurang ketat, kita  begitu  mudah memberi komentar terhadap orang lain, kita begitu mudah melakukan penilaian terhadap orang lain, seakan-akan kita adalah makhluk paling sempurna yang tak memiliki sedikitpun cela. Ringan, ringan sekali.

Memberi penilaian terhadap seseorang memang sah-sah saja, selama tidak bernada negatif dan bukan untuk tujuan yang negatif juga, apalagi bila disertai dengan character assassination, pembunuhan karakter terhadap seseorang.

Siapa sih yang tidak memiliki kekurangan? Dan jikalau kekurangan seseorang digali, tidak akan habis-habisnya untuk dibicarakan, dan… tentu saja begitu juga dengan diri kita, yang bisa jadi memiliki kekurangan sekian kali lipat dari orang yang kita komentari.

Saya teringat kisah seorang tabi’in besar, Muhammad bin Sirrin, yang pernah mengalami masa-masa pailit, beliau terlilit hutang yang cukup banyak. Lalu beliaupun berintropeksi diri dan berkata: “40 tahun yang lalu aku pernah memanggil seseorang dengan sebutan: wahai orang yang bangkrut”.

Ya, kita tidak sepenuhnya tahu bagaimana sunatullah bekerja, bagaimana satu kejadian saling berkait kelindan dengan kejadian yang lain. Bisa jadi saat ini Allah menangguhkan perkataan yang kita ucapkan dan dibalikkan ke diri kita setelah sekian waktu berlalu. Allah MahaTahu tapi menunggu. (kata Tolstoy sebagaimana dikutip Andrea Hirata: “Tuhan Tahu tapi menunggu”).

Suatu ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berpesan, janganlah memanggil saudara sesama muslim dengan sebutan ”wahai kafir”, karena jika panggilan itu tidak terbukti, maka akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Maka barangkali begitu jugalah dengan sekian penilaian dan komentar yang kita lontarkan tentang orang lain, yang bisa jadi akan berbalik pada kita, akan melekat dan menjadi aksesoris kita setelah berlalu beberapa masa. Sungguh, memikirkan ini saya jadi merinding. Berapa banyak komentar dan penilaian yang telah kita sematkan kepada orang lain? Mengapa tidak kita urus diri sendiri saja? Tapi kita memang sungguh bebal, dan masih juga menjadikannya sebagai ritual harian. Duh!

Satu Tanggapan

  1. Orang mukmin tercipta penuh coba

    Orang mukmin tercipta penuh cobasyaikh Ali bin hasan terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasullah Shallahualihi wa sallam bersabda:”Sesungguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan mufattah (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan nassaa’ (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat.” (Silsilah hadits shahih no. 2276). Hadits ini merupakan hadits yang menjelaksan sifat-sifat orang mukmin; sifat-sifat yang senantiasa lengket dan menyatu dengan diri mereka, tiada pernah lepas hingga seolah pakaina yang selalu menempel pada tubuh mereka dan tidak pernah terjauhkan dari mereka. Mufattan artinya orang yang diuji (diberi cobaan) dan banyak ditipa fitnah. Maksudnya: (orang mukmin) adalah orang yang waktu demi waktu selalu diuji oleh Allah dengan balaa’ (bencana) dan dosa-dosa. (Faidh-Qadir5/491). Dalam hal ini fitnah (cobaan) itu akan meningkatkan keimanannya, memperkuat keyakinannya dan akan mendorong semangatnya untuk terus menerus berhubungan dengan Allah Subhanallahu wa taala, sebab dengan kelemahan dirinya, ia menjadi tahu betapa Maha Kuat dan Maha Perkasanya Allah, Rabbnya. Menurut sebuah riwayat dalam shahih Muslim, sesungguhnya Nabi Shallahualihi wa sallam bersabda:”Perumpamaan seorang mukmin ibarat sebtang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang meluruskannya kembali. demikianlah keadaannyasmapai ajalnya datang. sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarta sebtang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumban, (tumbangnya) sekaligus.” (Bukhari: Kitab al-Mardha, bab I, hadits no. 5643; Muslim no. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027). Ya demikian sifat seorang mukmin dengan keimanannya yang benar, dengan tauhidnya yang bersih dan dengan sikap iltizam (komitmen)nya yang sungguh-sungguh. Tawwab Nasiyy artinya, orang yang “bertaubat, kemudian lupa. kemudian ingat, kemudian bertaubat”. (Faidh al-Qadir 5/491). seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu siat Allah Subhanallahu wa taala yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya: Al-Ghafar (Dzat yang Maha Pengampun) Allah Subhanallahu wa taala berfirman:”Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar” (Thaha: 82) Apabila diingatkan, ia segera ingat, artinya: Bila diingatkan tentang ketaatan, ia segera bergegas melompat kepadanya, bila diingatkan tentang kemaksiatan, ia segera bertaubat dari padanya. Bila dingatkan tetang kebenaran, ia segera melaksanakannya, dan bila diingatkan tentang kesalahan a segera menjauhinya dan meninggalkannya. Ia tidak sombong, tidak besar kepala, tidak congkak dan tidak tinggi hati tetapi ia rendah hati kepada saudara-saudaranya, lemah lembut kepada sahabat-sahabatnya dan ramah tamah kepada teman-temannya, sebab ia tahu bahwa inilah jalan ahlul Haq (pengikut kebenaran) dan jalannya kaum mukmin yang shalihin. Terhadap dirinya sendiri ia berbatin jujur serta berpenampilan luhur, sedangkan terhadap orang lain ia berperasaan lembut dan berahlak mulia, bersuri teladan kepada insan teladan paling smpurna yaitu Rasulullah Shallalhualihi wa sallam yang telah diberi wasiat oleh Rabb-nya dengan firman-Nya:”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap merea …” (Q.S. Ali-Imran: 159). inilah sifat seorangmukmin. Ini pula jalan hidup serta manhaj perilakunya. (diterjemahkan dari majalah al-Ashalah edisi 15, 16 th.III – 15 DzulQa’dah 1415)disadur dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Th.III/1419-1998

    ini solusinya jika terjadi
    bener loh, asli, karma kata orang
    jadi ati-ati loh
    terbukti
    pada saya
    Ha 3x

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: