Mencari Pasangan Sempurna

Suatu hari dalam salah satu sesi kuliah yang saya ikuti, dosen saya, yang terkenal sebagai dosen yang serius, entah mengapa bercerita tentang sebuah anekdot yang cukup menarik. Konon diceritakan oleh beliau tentang seorang lelaki yang sedang berusaha mencari pasangan yang sempurna. Sempurna dalam segala hal, yang mungkin bisa direpresentasikan dengan ciri-ciri sebagai berikut: cantik, cerdas, kaya, keturunan ningrat, dan berakhlak mulia.

Beberapa wanita sudah coba ia dekati, namun ia merasa belum menemukan tipikal wanita sempurna yang ia idam-idamkan. Alasannya karena kurang cantik, kurang cerdas, kurang kaya, pokoknya yang serba kurang-kurang. Sampai suatu ketika ia menemukan wanita idamannya, seseorang yang benar-benar memiliki syarat kesempurnaan yang dia inginkan. Lalu sampailah saat-saat dimana dia mengutarakan isi hatinya, tentang pencariannya terhadap seorang wanita yang sempurna, dan ternyata wanita itu adalah dia. Maka sang wanita ini pun menjawab: Maaf, saya tidak bisa menerima permintaan Anda, karena sayapun sedang mengidam-idamkan seorang lelaki sempurna. Yah bisa ditebak apa yang terjadi dengan sang lelaki, patah hati berat!

Cerita diatas (walaupun sekadar anekdot) bisa memberi pelajaran bahwa semestinya kita mengukur diri. Boleh saja memiliki ekspektasi tinggi, tapi realita tidaklah selalu sesuai dengan keinginan. Untuk itu kita perlu memilah hal-hal yang paling esensial dalam memilih pasangan hidup.

Rasulullah pernah memberi nasehat berharga. Seorang wanita, kata beliau, dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena garis keturunannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung, lanjut beliau.

Saya mencoba merenung-renungkan nasehat ini, mencoba menghayati, dan memahami esensi di baliknya, sebab beliau adalah Rasul, penyambung risalah Ilahi, yang kata-katanya adalah wahyu dan mengandung intisari kehidupan.

Tapi tentu saja bukan berarti kita sama sekali memandang sebelah mata pada aspek-aspek yang lain, sebab menurut saya, proses menikah harus diawali dengan adanya ketertarikan, yang dalam bahasa Ibnul Jauzi (dalam Shaidul Khatir): ada degupan jantung kala bertemu dengannya. Tapi yang terakhir ini pun sama sekali tidak mutlak, sebab betapa banyak pasangan yang pada awalnya tidak memiliki perasaan apa-apa namun seiring berjalannya waktu perasaan cinta itu tumbuh, tumbuh dan terus tumbuh?

5 Tanggapan

  1. contoh perkataan yang populer dan sering jadi hambatan
    “yang penting aku suka dia dan dia suka aku”
    wanita itu yach manusia juga ternyata
    no human’s perfect biar kata jauh lebih baik keadaannya dari yang melihat
    “pengen nyela?”
    “cela tuh diri”
    “kan udah lama jalan bareng”
    “elo pasti tau diri elo lebih banyak cela”
    katanya sih, tapi kebanyakan nyela juag ntar ndak PD
    susah kan yang penting
    “elo tau yang elo mau”
    “so just do it”

  2. Hehe, wanita sholihah untuk laki2 sholih. Gtu kali yak?

  3. So are you saying that you are exactly like what al-imam ibnul jauzi said roen? So your heart must beat so fast at the first sight, right? hehehe….kaifal hal ya ustadz… kaifal umuur…thayyibin?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: