Kontemplasi

Ada waktu-waktu yang kita perlukan untuk merenung dan berkontemplasi. Merenung tentang kehidupan dan hari-hari yang telah berlalu. Kita perlu waktu dan ruang privasi untuk itu, agar bisa melihat kembali perjalanan-perjalanan yang telah kita tempuh. Merenung berarti mencari hikmah yang tercecer, merenung berarti memikirkan ulang peristiwa-peristiwa untuk mengambil pelajaran sebagai bekal bagi perjalanan kita selanjutnya.

Jiwa kita terkadang begitu menginginkan saat-saat seperti itu, dalam sunyi dan kesendirian, saat yang kondusif untuk berkontemplasi, saat ketika kita berada jauh dari segala aktifitas dan hiruk-pikuk yang menyesak. Di sanalah kita bisa melihat secara menyeluruh, dengan cara pandang yang lebih luas terhadap apa saja yang telah terjadi. Hasilnya, berupa pemikiran dan gagasan-gagasan baru, atau cara pandang baru, atau pergeseran paradigma dari apa yang kita alami sebelumnya.

Ketika menghadapi sebuah masalah, biasanya kita terperangkap dalam kotak masalah itu sendiri, tanpa sadar kita terkurung dan terjebak dalam labirin yang tercipta. Proses perenungan bisa menjadi batu loncatan untuk keluar dan terbebas dari tarikan masalahnya, sehingga kita bisa berpikir secara jernih tanpa mengedepankan emosi dan perasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: