Ekstase

Sekali-kali pandanglah langit pada malam cerah kala bintang bertaburan. Kita akan dibawa pada ekstase perasaan di tengah semesta yang maha luas. Kita akan merasa menjadi sebuah noktah di tengah lautan ciptaan-Nya. Betapa kecil dan ringkih. Kita hanyalah satu titik di bumi, di antara tata surya, di antara galaksi-galaksi di kolong langit. Semua kesombongan dan keangkuhan luruh bersama kesadaran akan keterbatasan.

Saat ini kita hidup di sebuah dunia yang dipenuhi permasalahan-permasalahan yang begitu kompleks, dari mulai kediktatoran Amerika yang dengan buas menginvasi negeri-negeri muslim seperti Afghan dan Irak, sampai permasalahan-permasalahan hidup sehari-hari seperti kenaikan BBM dan TDL. Semua berita-berita itu disajikan oleh berbagai media cetak dan elektronik, dan masuk ke rumah-rumah kita, menjadi bacaan dan sumber informasi.

Isi media-media itu juga mengisahkan tentang perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, vandalisme, intrik politik, perebutan kekuasaan, korupsi, kawin cerai artis, dan segala hal serta tetek bengek lain yang membuat hidup jadi terasa sumpek. Hidup tidak lebih sebagai himpitan dari berbagai kesemrawutan. Kita lalu merasa tidak aman berada di tengah-tengah dunia yang selalu menyajikan kekerasan, yang kini menjadi komoditas media sehingga diekspos secara vulgar dan massif.

Dari keadaan yang seperti itu lahirlah individu-individu yang teralienasi dari lingkungan, jiwa-jiwa yang lebih senang menyendiri dan bergumul dengan dunianya sendiri, jiwa-jiwa yang stres dan depresi, jiwa-jiwa yang menderita berbagai penyakit kejiwaan yang akut dan kronis. Bunuh diri lalu dijadikan solusi untuk lari dari segala permasalahan itu, bahkan orang-orang yang bergelimang kekayaan sekalipun, karena uang memang tidak bisa membeli kebahagian.

Muncul pula sosok-sosok sosiopat atau psikopat yang lahir dari kekerasan masa lalu yang pernah dialami, jiwa-jiwa yang mampu dengan dingin membunuh dan mencelakakan orang lain, tanpa beban dan tanpa merasa bersalah, seperti sosok Dr. Hannibal Lecter dalam film Silence of The Lambs.

Akhirnya kesumpekan dan carut-marutnya kehidupan itu sedikit demi sedikit mengisi hati, menyingkirkan ruang-ruang kenyamanan dan kebahagiaan, membawa kita pada jalan buntu dan sudut mati, kecuali bagi jiwa-jiwa yang mempunyai visi dan filosofi hidup yang benar, jiwa-jiwa yang dibimbing oleh cahaya keimanan.

Maka memandang ke langit penuh bintang dan merenungkan posisi koordinat kita pada keluasan semesta bisa memberi pencerahan pikiran, bisa meminimalisasi kekusutan hati, sebab kita hanyalah satu titik yang tidak berarti apa-apa di tengah kekuasaan-Nya yang tak terbatas, sebab kita hanyalah satu diantara sekian banyak makhluk yang tak lepas dari takdir dan kehendak-Nya. Cobalah, dan rasakan ekstase serta kenyamanan itu.

5 Tanggapan

  1. endingnya cool bgt gitu loch
    yah Q-ren dach
    tapi kalo masuk majalah mesti berubah
    sebel yach

  2. lho kenal hannibal lecter juga

    sufi ya?

  3. Pernah lihat film-e, sufi? Gak juga Wir, itu kan implementasi dari tauhid Rububiyah, upaya menambah keimanan dengan merenungkan ciptaan Allah :)

  4. sufi
    suka film y?

  5. kata-kata yg indah membuat perasaan ini begitu tenang
    meski pun hanya 1 titik, tapi seberapa besarkah kehancuran yg dibuat oleh titik2 tsb?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: