Media Cetak vs Media Digital

Ketika masih duduk di bangku SMA, guru bahasa Indonesia saya menyampaikan prediksi tentang akan tergesernya media cetak (koran dan majalah) oleh media digital. Menurutnya suatu saat nanti orang akan berlangganan koran dari perangkat elektronik (laptop, PDA, dll) sehingga lebih mudah dan lebih praktis. Cukup dengan menekan beberapa tombol, maka koran dan majalah elektronik pun hadir di perangkat yang kita miliki. Prediksi ini disampaikan ketika internet belum semaju dan sesemarak sekarang ini.

Kini, beberapa tahun sudah berlalu, internet pun sudah merambah banyak kota-kota besar dan mulai memasuki kota-kota kabupaten serta kecamatan, tapi toh koran dan majalah masih juga digemari. Internet tidak juga mampu menggeser peran koran dan majalah sebagai sumber berita. Kalaupun ada, angkanya tidak terlalu signifikan. Berapa banyak pegawai yang masih juga berlangganan koran dan majalah padahal di kantor atau di rumahnya sudah ada internet?

Nampaknya banyak orang yang sudah terlanjur kecanduan dengan media cetak. Bagaimanapun juga membaca berita di Internet akan terasa lain jika dibandingkan membaca berita di koran atau majalah. Ada unsur kesenangan dan kenikmatan yang tidak bisa dihadirkan oleh Internet. Orang bisa membaca koran dan majalah dimana saja dan kapan saja, di tempat tidur sambil tiduran, di peron sambil menunggu kereta, di terminal sambil menunggu bus, atau di taman sambil bersantai. Orang juga bisa membawa koran kemana saja tanpa perlu repot membawa-bawa laptop yang lumayan berat dan perlu kehati-hatian dalam menjaganya.

Hal-hal itu jugalah yang masih membuat buku format konvensional (format kertas) masih belum juga tergeser oleh buku elektronik. Saya sendiri lebih senang membaca dan menikmati buku konvensional daripada buku elektronik. Sekali lagi ada rasa yang tidak bisa dihadirkan oleh buku elektronik. Misalnya saja rasa ketika membolak-balik kertas atau ketika menuju ke halaman yang belum kita pahami sepenuhnya.

Terlepas dari itu semua, internet tetap merupakan media yang sangat digemari. Berita-berita terbaru yang bisa langsung kita nikmati tanpa menunggu keesokan harinya adalah kelebihan yang tidak bisa ditandingi oleh media cetak. Kemudahan untuk melakukan pencarian topik tertentu adalah kelebihan kedua. Maka lebih tepat dikatakan jika keduanya (media cetak dan media digital) saling melengkapi satu sama lain.

Internet juga menghadirkan interaksi antara satu pengguna dengan pengguna lainnya. Berita atau opini yang muncul bisa langsung ditanggapi, dikoreksi, atau bahkan dicaci-maki oleh pengguna yang lain, sehingga menjadi lebih hidup dan interaktif. Akhirnya lahirlah bermacam model pemberitaan karena sifatnya yang tidak terbatasi oleh waktu. Salah satunya adalah blog, yang kini telah menjadi tren yang tak terpisahkan dari Internet. Melalui teknologi ini, setiap orang, tanpa punya latar belakang jurnalistik sekalipun, dapat meng-upload berita yang dia dapatkan, lengkap dengan gambar atau rekaman kameranya.

Bagaimana dengan beberapa tahun ke depan? Entahlah. Tapi dengan mempertimbangkan generasi media digital yang sekarang sudah lahir, bisa saja beberapa tahun ke depan media cetak akan mulai tergeser, apalagi jika generasi lama penggemar media cetak sudah tergantikan oleh generasi baru yang sejak kecil sudah menjadi penggemar internet. Tapi jika belajar dari kasus radio, yang tidak juga tergeser oleh adanya televisi, padahal dulu orang sudah memprediksikan kematiannya, maka media cetak masih akan berumur panjang. Kita lihat saja nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: