Mata Pena

Catatan Jejak Perjalanan

Setting Internet di Ubuntu 8.10

Ditulis oleh tasurun di/pada April 26, 2009

Beberapa hari kemarin saya ke mangga dua untuk belanja beberapa perangkat kantor, tak lupa membeli majalah InfoLinux di kios majalah. Distro yang disertakan adalah Ubuntu 8.10 Studio Edition dan Slackware 12.2. Akhirnya saya putuskan untuk menginstal Ubuntu 8.10. Salah satu pertimbangannya adalah dukungan yang luas di internet sehingga jika menemui masalah bisa langsung menemukan pemecahannya di google. Nah waktu akan men-setting LAN Card untuk koneksi internet saya tidak menmukan menu manager untuk jaringan yang biasanya ada pada edisi ubuntu sebelumnya. Akhirnya saya mencari cara setting internet secara manual (dengan merubah beberapa file tertentu). Dan inilah hasilnya setelah melakukan googling:

1. Setting nomor IP

$sudo vi /etc/network/interfaces

auto eth0
iface eth0 inet static
address 192.168.0.70
netmask 255.255.255.0
gateway 192.168.0.1

2. setting Primary dan secondary DNS :
$sudo vi /etc/resolv.conf

nameserver 222.124.204.34
nameserver 203.130.196.5

3. Restart network :
$sudo /etc/init.d/networking restart

* Reconfiguring network interfaces…                                   [ OK ]

4. Tes ping ke google:

$ping www.google.com

PING www.l.google.com (216.239.61.104) 56(84) bytes of data.
64 bytes from sn-in-f104.google.com (216.239.61.104): icmp_seq=1 ttl=239 time=72.9 ms
64 bytes from sn-in-f104.google.com (216.239.61.104): icmp_seq=2 ttl=239 time=129 ms
64 bytes from sn-in-f104.google.com (216.239.61.104): icmp_seq=3 ttl=239 time=63.8 ms

Ups… jadi deh… :)

Ditulis dalam Linux | Leave a Comment »

Mengejar Mimpi

Ditulis oleh tasurun di/pada Juni 26, 2008

Malam tinggalkan sunyi
bulan beranjak pergi
mari mengejar mimpi
bersama kunang-kunang yang berlari
di antara keriuhan semesta yang bertasbih
mengagungkan nama-Nya tiada letih

Ditulis dalam Puisi | 7 Komentar »

Puisi Sebagai Ungkapan Isi Hati

Ditulis oleh tasurun di/pada Juni 24, 2008

Saya termasuk yang senang menikmati keindahan kata dalam puisi. Ada rasa yang berpijar-pijar ketika membaca untaian kalimat yang indah itu. Karena suka membaca puisi itulah maka terkadang saya berangan-angan untuk bisa membuat sebuah puisi yang indah, dan yah, saya akui usaha kearah sana cukup sulit. Kadang, kalimat yang kita pilih pada akhirnya mentok dan tidak tahu akan diarahkan kemana. Namun ada saat-saat dimana kata-kata itu bermunculan begitu saja dalam pikiran kita, sehingga jadilah puisi pendek yang – menurut standar pribadi – cukup enak dibaca. Biasanya puisi-puisi yang keluar dari proses seperti ini adalah puisi-puisi yang benar-benar sedang mencerminkan isi hati, puisi yang muncul sebagai ungkapan dari kegundahan hati. Berikut ini beberapa puisi yang berhasil saya ciptakan, walaupun mungkin masih jauh dari standar puisi yang sesungguhnya. Ada yang ingin memberi masukan?

(i)

Aku tengah melukis sepi
pada bayang wajah di langit malam
angan mengembara pada serpih kenangan
mengalir deras bagai sungai airmata
inikah wajah itu
mencuri hati pada sepenggal waktu

(ii)

Lalu waktupun berhenti
dan angin menerbangkan mimpi
kala terselip wajah itu
pada dzikir dan doa syahdu
salahkah aku?

(iii)

Aku belajar mengeja kata
dari tepian hati yang terpahat rasa
kala rindu selimuti kalbu
dan cinta menyiksa jiwa
pada siapa kulabuhkan asa?

Ditulis dalam Puisi | 2 Komentar »

Ritual Harian

Ditulis oleh tasurun di/pada Maret 17, 2008

Kadang-kadang ketika kontrol diri kurang ketat, kita  begitu  mudah memberi komentar terhadap orang lain, kita begitu mudah melakukan penilaian terhadap orang lain, seakan-akan kita adalah makhluk paling sempurna yang tak memiliki sedikitpun cela. Ringan, ringan sekali.

Memberi penilaian terhadap seseorang memang sah-sah saja, selama tidak bernada negatif dan bukan untuk tujuan yang negatif juga, apalagi bila disertai dengan character assassination, pembunuhan karakter terhadap seseorang.

Siapa sih yang tidak memiliki kekurangan? Dan jikalau kekurangan seseorang digali, tidak akan habis-habisnya untuk dibicarakan, dan… tentu saja begitu juga dengan diri kita, yang bisa jadi memiliki kekurangan sekian kali lipat dari orang yang kita komentari.

Saya teringat kisah seorang tabi’in besar, Muhammad bin Sirrin, yang pernah mengalami masa-masa pailit, beliau terlilit hutang yang cukup banyak. Lalu beliaupun berintropeksi diri dan berkata: “40 tahun yang lalu aku pernah memanggil seseorang dengan sebutan: wahai orang yang bangkrut”.

Ya, kita tidak sepenuhnya tahu bagaimana sunatullah bekerja, bagaimana satu kejadian saling berkait kelindan dengan kejadian yang lain. Bisa jadi saat ini Allah menangguhkan perkataan yang kita ucapkan dan dibalikkan ke diri kita setelah sekian waktu berlalu. Allah MahaTahu tapi menunggu. (kata Tolstoy sebagaimana dikutip Andrea Hirata: “Tuhan Tahu tapi menunggu”).

Suatu ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berpesan, janganlah memanggil saudara sesama muslim dengan sebutan ”wahai kafir”, karena jika panggilan itu tidak terbukti, maka akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Maka barangkali begitu jugalah dengan sekian penilaian dan komentar yang kita lontarkan tentang orang lain, yang bisa jadi akan berbalik pada kita, akan melekat dan menjadi aksesoris kita setelah berlalu beberapa masa. Sungguh, memikirkan ini saya jadi merinding. Berapa banyak komentar dan penilaian yang telah kita sematkan kepada orang lain? Mengapa tidak kita urus diri sendiri saja? Tapi kita memang sungguh bebal, dan masih juga menjadikannya sebagai ritual harian. Duh!

Ditulis dalam Catatan | 1 Komentar »

Mencari Pasangan Sempurna

Ditulis oleh tasurun di/pada Maret 17, 2008

Suatu hari dalam salah satu sesi kuliah yang saya ikuti, dosen saya, yang terkenal sebagai dosen yang serius, entah mengapa bercerita tentang sebuah anekdot yang cukup menarik. Konon diceritakan oleh beliau tentang seorang lelaki yang sedang berusaha mencari pasangan yang sempurna. Sempurna dalam segala hal, yang mungkin bisa direpresentasikan dengan ciri-ciri sebagai berikut: cantik, cerdas, kaya, keturunan ningrat, dan berakhlak mulia.

Beberapa wanita sudah coba ia dekati, namun ia merasa belum menemukan tipikal wanita sempurna yang ia idam-idamkan. Alasannya karena kurang cantik, kurang cerdas, kurang kaya, pokoknya yang serba kurang-kurang. Sampai suatu ketika ia menemukan wanita idamannya, seseorang yang benar-benar memiliki syarat kesempurnaan yang dia inginkan. Lalu sampailah saat-saat dimana dia mengutarakan isi hatinya, tentang pencariannya terhadap seorang wanita yang sempurna, dan ternyata wanita itu adalah dia. Maka sang wanita ini pun menjawab: Maaf, saya tidak bisa menerima permintaan Anda, karena sayapun sedang mengidam-idamkan seorang lelaki sempurna. Yah bisa ditebak apa yang terjadi dengan sang lelaki, patah hati berat!

Cerita diatas (walaupun sekadar anekdot) bisa memberi pelajaran bahwa semestinya kita mengukur diri. Boleh saja memiliki ekspektasi tinggi, tapi realita tidaklah selalu sesuai dengan keinginan. Untuk itu kita perlu memilah hal-hal yang paling esensial dalam memilih pasangan hidup.

Rasulullah pernah memberi nasehat berharga. Seorang wanita, kata beliau, dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena garis keturunannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung, lanjut beliau.

Saya mencoba merenung-renungkan nasehat ini, mencoba menghayati, dan memahami esensi di baliknya, sebab beliau adalah Rasul, penyambung risalah Ilahi, yang kata-katanya adalah wahyu dan mengandung intisari kehidupan.

Tapi tentu saja bukan berarti kita sama sekali memandang sebelah mata pada aspek-aspek yang lain, sebab menurut saya, proses menikah harus diawali dengan adanya ketertarikan, yang dalam bahasa Ibnul Jauzi (dalam Shaidul Khatir): ada degupan jantung kala bertemu dengannya. Tapi yang terakhir ini pun sama sekali tidak mutlak, sebab betapa banyak pasangan yang pada awalnya tidak memiliki perasaan apa-apa namun seiring berjalannya waktu perasaan cinta itu tumbuh, tumbuh dan terus tumbuh?

Ditulis dalam Catatan | 2 Komentar »

Berpikir

Ditulis oleh tasurun di/pada Maret 11, 2008

Merenung dan berpikirlah, maka jika beruntung, engkau akan mendapat inspirasi baru, imajinasi liar, dan inovasi tanpa batas. Seperti Archimedes yang keluar dari kamar mandi dengan (maaf) telanjang dan berteriak eureka! eureka! karena berhasil menemukan cara menentukan mahkota asli.

Merenung dan berpikirlah, mengikuti sabda filsuf Prancis Rene Descartes, “Cogito Ergo Sum”, aku berpikir maka aku ada, sabda yang telah menjadi tonggak madzhab rasionalisme, itu jika kau ingin menuhankan akalmu, meragukan segala hal, termasuk dirimu, dan menggunakan akalmu untuk menjadi patokan kebenaran. Tapi apa itu mungkin? Jangan-jangan yang kau anggap kebenaran itu sendiri adalah sebuah kesalahan? Atau ketika kau berpikir itu sendiri adalah sebuah kesalahan?

Atau kau ingin seperti Newton yang konon menelurkan teori gravitasinya setelah terinspirasi dari apel yang jatuh? Ah silahkan saja, toh aku hanya ingin berpikir dengan caraku, dengan metodeku, untuk menghadapi segala masalahku.

Apa? Kau sebut aku sok filosofis? Silahkan saja kawan, silahkan, apa peduliku? Aku hanya ingin menulis apa yang terlintas di benakku, titik!

Ditulis dalam Catatan | 1 Komentar »

Tanyalah pada Rintik Hujan

Ditulis oleh tasurun di/pada Maret 11, 2008

Tanyalah pada rintik hujan, pada kemilau senja, pada daun yang berserak, pada ranting patah, pada biru gunung, pada segala yang kau lihat, tanyalah tentang gundahmu itu, tumpahkan semua masalahmu itu kawan, maka rasakan kelegaan hati, terlepaslah beban yang menindih.

Lalu tulislah pada kulit pohon, pada tanah merah, pada dinding malam, torehkan semua, pahatkan segala, maka rasakan kesejukan jiwa, hilangkan sesak dada.

Sudahkan engkau membaca sudut-sudut gelap hatimu? Yang mulai mengembang memakan ruang? Bukankah titik-titik hitam itu telah terjejal disana? Semakin hari semakin bertambah?

Mungkin kau tidak paham apa yang kaubaca, karena akupun tak paham apa yang kutulis. Tidak ada pertanyaan, titik!

Ditulis dalam Catatan | 2 Komentar »